Mengapa Kamu Sangat Menyayangi Biasmu? Beberapa Hal Berikut Bisa Menjelaskan
Apakah kamu termasuk salah satu orang yang baru-baru ini mempelajari dunia K-pop? Saat ini kamu sedang mencari tahu apa yang terjadi dan mencoba untuk memahami diri sendiri dengan lebih baik.
Atau mungkin salah satu teman dekatmu termasuk penggemar K-pop (Korean-pop)? Lalu kamu terheran-heran dengannya yang begitu sayang pada biasnya. Bias dalam hal ini artinya: member favorit dalam suatu grup. Kata bias ini sudah masuk ke dalam KBBI ya dan masuk dalam ragam cakapan.
Tulisan ini bertujuan untuk mencoba memahami itu semua. Mungkin saja tidak akan sepenuhnya selesai. Karena kita tidak akan pernah bisa mengerti sampai kita sendiri mengalaminya. Tapi mari kita coba.
1. Ia menjalani hari yang melelahkan dan berulang, lalu biasnya hadir untuk membuatnya tertawa.
Sudahkah kamu memahami kesehariannya? Apakah dia sedang belajar mengejar mimpinya ataukah ia sedang bekerja untuk menopang hidup diri dan keluarga. Rutinitas dalam jangka waktu yang panjang begitu menjenuhkan. Bayangkan jika rutinitas tersebut menjadi alasannya tak punya daya dan energi lagi untuk bersosialisasi dengan banyak orang. Ia menjadikan biasnya sebagai teman. Karena tingkahnya yang lucu dan menggemaskan.
2. Ia merasa kecewa dengan orang yang dipercayainya, kemudian biasnya ada dan membuatnya merasa disayang.
Mungkin saja ia menyimpan luka dalam dirinya. Ia bahkan tidak mampu untuk mengekspresikan hal itu kepada orang yang lebih dewasa di sekitarnya. Sebab ia tak mendapatkan pelajaran itu sepanjang perjalanan hidupnya. Lalu tiba-tiba seseorang yang hanya memanggilnya dengan satu nama (bersama dengan jutaan orang lainnya), selalu ada untuk memberinya kabar terbaru, memberi pesan untuk jaga kesehatan, mengatakan ‘aku bangga dengan pencapaianmu’, mengatakan ‘i love you’, mengajarkan tentang: persahabatan, kekeluargaan, dan kerja keras.
3. Ia memiliki beberapa kesamaan dengan biasnya.
Dalam hal apa saja, bisa jadi sifat yang mirip, latar belakang keluarga yang hampir sama, makanan kesukaan, hobi, nilai-nilai yang dianggap penting dalam hidup, dst. Contohnya: ada seseorang yang menjadikan Jimin BTS sebagai biasnya. Alasannya karena sewaktu SMA, Jimin kesulitan untuk beradaptasi di lingkungan sekolah barunya di Seoul (Ia pindahan dari Busan). Kemudian sahabat satu grupnya Taehyung meminta temannya agar menjaga Jimin. Hal ini mengingatkan temanku dengan pengalaman hidupnya sendiri. Sejak saat itu ia ingin dirinya menjadi manusia yang lebih kuat dan bisa melindungi orang lain.
4. Biasnya sangat keren dan menjadi inspirasinya untuk selalu mengembangkan diri.
Tentu saja mereka sangat keren dan berbakat, mungkin ada banyak perdebatan soal itu. Tapi yang jelas mereka menjalani bertahun-tahun masa trainee, mungkin saja sampai mengasingkan diri dari dunia untuk fokus berlatih. Bersaing dengan ketat untuk menjadi yang terbaik. Bahkan setelah lulus dari masa trainee, perjuangan babak baru pun dimulai dengan tantangan yang jauh lebih besar. Bukankah ini mengingatkan pada cerita kehidupan kita semua? Bahwa proses yang berkepanjangan itu penting. Proses dengan penuh kejujuran dan ketulusan itu penting.
5. Belajar public speaking dari biasnya.
Contohnya: seseorang menjadikan RM BTS sebagai bias sekaligus role model-nya. Ia kagum dengan kepemimpinan RM: bagaimana ia merangkul member, berkomunikasi dengan perusahaan, menghadapi pers, memberikan pidato di penghargaan musik, menghadapi kemarahan publik, dsb. RM selalu punya cara untuk melindungi BTS dan ARMY-nya. Ketika beberapa pewawancara dan hampir semua orang menyudutkan ARMY dengan kata negatif. RM selalu mengatakan bahwa ARMY itu: ‘luar biasa’, ‘mereka manusia, bukan robot atau AI’, dll. Seseorang dengan love-language Words of Affirmation pasti sangat memahaminya, bahwa kata-kata itu sangat bermakna dan berpengaruh.
Demikian tulisan ini dibuat dengan setulus-tulusnya, terima kasih telah memperhatikan setiap katanya hingga akhir. Sampai jumpa di tulisan berikutnya.

Komentar
Posting Komentar